Potret Umat Saat Ini

Melihat wajah umat di Indonesia saat ini bisa di bilang coreng-moreng, carut-marut. Banyak sekali kejadian-kejadian yang cukup membuat ngeri hati kita saat melihatnya. Korupsi yang meraja lela, kemaksiatan yang terus menjamur, seakan-akan tidak mau lepas dari umat ini. Belum lagi bencana alam yang silih berganti menimpa saudara-saudara kita di di bergagai daerah. Dan yang tak kalah sakitnya bagi umat ini adalah peristiwa Bom yang sering terjadi.
Mungkin yang paling membuat umat Islam terpukul adalah kembali terjadi konflik yang terjadi di Poso. Banyak aktivis-aktivis Islam menjadi target intelijen dan dicurigai sebagai otak dari kerusuhan serta sumber dari terorisme. Islam dalam keterpurukan fitnah kaum kafir. Apakah semua cobaan ini bukti murka Allah ? Dan yang menjadi PR bagi umat ini adalah bagaimana dengan harokah islamiyah menuju jama’atul muslimin dapat terwujud, sehingga Allah senantiasa memberikan keberkahan, sesuai dengan janji-Nya dalam Surat Al-A’Raaf ayat 96 :
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya

Memupuk semangat harokah islamiyah

Kondisi yang telah terjadi seperti yang telah dibahas di atas tentunya tidak membuat pesimis atau istilahnya layu sebelum berkembang bagi aktivis-aktivis dakwah. Ini merupakan cobaan-cobaan yang diberikan oleh Allah bagi umatnya seperti yang terjadi juga terhadap pendahulu-pendahulu kita, seperti yang diceritakan Allah dalam surat Al Baqarah ayat 214 :
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat
Demikian juga yang dialami oleh nabi kita Muhammad SAW, begitu berat cobaan yang beliau alami untuk menegakkan Islam di muka bumi. Hal inilah yang seharusnya selalu menjadi motivasi kita untuk senantiasa menegakkan Islam

Ada satu hadist yang hendaknya dapat memacu adrenalin, memacu semangat kita untuk mewujudkan masyarakat yang di dalamnya penuh dengan nilai-nilai Islam, hadist tersebut juga sering disebut oleh para ulama sebagai babul umara atau hadist mengenai para pemimpin. Yang dalam dalam hadist ini Nabi Muhammad SAW memberikan ringkasan sejarah perjalan panjang umat Islam dari awal sampai akhir nanti, dikatakan bahwa umat Islam dalam perjalan sejarahnya akan menempuh 5 periode. Periode yang pertama adalah Nubuwah atau periode kenabian, periode ini Rasulullah hidup bersama umatnya kaum muslimin. Periode yang kedua adalah khilafah ‘ala minhaj nubuwah atau periode kekhalifahan yang mengikuti cara-cara kenabian yang disebut juga peride khulafaur rasidin, periode yang ditandai dengan munculnya sosok khalifah-khalifah yang jujur, yang adil, yang benar, yang diwakili oleh 4 orang sahabat utama nabi yang langsung mendapat didikan oleh nabi Muhammad SAW, yaitu Abu Bakar As-Shidiq, Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib. Keempat Khalifah ini memimpin kekhalifahan yang masih mengikuti cara kenabian. Periode ketiga adalah Mulkan ‘adhon atau raja-raja yang menggigit, periode ini adalah periode para khalifah-khalifah, amirul mukminin pemimpin orang-orang beriman yang sebutan mereka tetap khalifah, tetap berpegang pada Al-Quran dan Sunnah, namun pola yang digunakan dalam masa itu menggunakan pola kerajaan, sehingga pada waktu itu bermunculan kerajaan-kerajaan Islam, yang secara garis besar ada 3 kerajaan besar yaitu Daulah Bani Umayah, Daulah Bani Abasiyah dan yang terakhir adalah Daulah bani Ustaminyah (kesultanan Ustmani Turki). Kenapa disebut jaman raja-raja menggigit, karena model pergantian kepemimpinannya menggunakan pola keturunan raja yang digantikannya atau bisa disebut pola kekeluargaan. Periode yang keempat adalah mulkan jabariyah atau periode penguasa-penguasa yang diktator. Menurut para ulama sekarang ini merupakan masa atau berada pada periode keempat. Dimana pada masa ini para pemimpin atau penguasa sudah tidak lagi menggunakan Al-Quran dan Sunnah sebagai sumber dari segenap sumber kehidupan baik individual maupun sosial. Dan berlangsungnya periode ini tidak dapat dipastikan sampai kapan, Wallahu A’lam bi shawab. Periode yang terakhir atau kelima adalah kekhalifahan yang mengikuti cara kenabian, bedanya dengan periode yang kedua adalah para khalifahnya pernah didik langsung oleh nabi, sedang pada periode kelima tidak. Mengenai kapan berlangsungnya periode itu tidak ada yang tau selain Allah.

Merujuk hadist nabi tersebut kita hendaknya dapat terus-menerus memupuk benih-benih harokah islamiyah atau semangat untuk menegakkan Islam di muka bumi ini untuk mempersiapkan datangnya periode kelima, yang sudah barang tentu harus didukung dengan kerangka struktural yang kokoh. Meskipun banyak dari kalangan kita sendiri yang acuh terhadap apa yang disampaikan nabi dalam hadistnya tersebut, padahal pihak asing sudah mempersiapkan berbagai cara untuk menggagalkan periode tersebut sesuai dengan perkiraan mereka bahwa pada tahun sekitar 2020 kejayaan Islam akan terwujud (hasil seminar National Intelligence Council). Ini juga menguatkan juga sebuah telahan kritis seorang ulama yang menulis buku Kehancuran Israel di Tahun 2022 serta buku Yusuf Qordhawi yang berjudul Berita Kemenangan Islam. Tentunya banyak yang harus kita lakukan, kita perbaiki, kita perbarui. Menurut Muhammad Thalib (wakil Amir Majelis Mujahidin) ada beberapa cara yang harus dilakukan untuk memperkuat qiyadah (kepimimpinan) yang Islami yang merupakan pilar utama dalam mewujudkan jama’atul muslimin (masyarakat Islam yang bernaung dalam satu kepemimpinan Islam). Adapun yang harus dilakukan adalah:
1. mengurangi kecintaan terhadap dunia dan memperkuat kecintaan terhadap akhirat,
2. mampu membedakan mana yang haq dan mana yang bathil (tidak mencampur yang haq dengan yang bathil)
3. memperbarui keimanan seperti hadist rasulullah “perbaruilah iman kalian dengan la ilaha illallah”
4. kembali pada Al-Quran dan Sunnah

Yang menjadi pertanyaan besar buat kita semua adalah “Sudahkah kita dalam suatu jama’ah yang siap untuk mewujudkan Jama’atul Muslimin?”