Suara rakyat untuk memilih seorang pemimpin adalah amanah. Rasulullah saw bersabda: “Bila sebuah tugas diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya hari kiamat”. HR. Bukhari dan Muslim.

Dengan hadits ini nampak betapa sebuah amanah sangat mahal. Mahal karena itu berkaitan dengan nasib sejumlah besar manusia. Bila ternyata kemudian amanah itu diberikan kepada pemimpin yang korup dan dzalim maka berapa banyak manusia yang akan menderita karenanya.

Karena itu, sebagai warga negara yang bertanggung jawab, janganlah sekali-kali kita –apapun latar belakangnya- memilih pemimpin yang bejat. Janganlah sekali-kali memberikan amanah kepada mereka yang dzalim.

Di dalam Al Qur’an Allah swt berfirman: “Berbuat adillah, karena berbuat adil itu lebih dekat kepada taqwa”. QS. Al Maidah: 8.

Di sini nampak bahwa memberikan suara kepada orang-orang yang berbuat adil adalah bagian dari tanda ketaqwaan. Maka sungguh termasuk kedzaliman ketika seseorang dengan sengaja memilih pemimpin yang tidak bertanggung jawab.

Pun termasuk kedzaliman orang-orang yang tidak menentukan pilihan alias golput, jika ternyata di depannya ada salah satu pilihan yang lebih baik. Mengapa?. Sebab tidak mustahil sikap golput itu dengan tanpa disengaja akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang dzalim.

Benar, setiap orang ada kelemahannya, tetapi dalam kaidah fikih, kita di ajarkan agar memilih ”yang ringan keburukannya” . Karena itu jangan ragu lagi dalam mendukung kebenaran. Sebab keraguan dalah salah satu pintu syetan.

Tidak sekedar menyalurkan suaranya, melainkan juga berusaha mempengaruhi orang lain, agar jangan sampai mereka salah memilih.

Dan ini termasuk dalam pengertian hadits Rasulullah saw. “Orang yang menunjukkan kepada kebaikan ia dapat pahal seperti orang yang mengerjakannya” . HR. At Tirmidzi.

Bayangkan berapa kebaikan yang ia peroleh jika ia dapat memepengaruhi orang lain untuk memilih yang terbaik. Allahu A’lam.

(Dijiplak dari tulisan Ulis Tofa Muhammad Ali pada milis forsimpta)