Setelah novelnya menjadi novel yang best seller, kini kisah menarik dalam novel tersebut akan difilmkan yang rencananya bulan januari nongol di bioskop. Film ini digarap oleh sutradara muda Hanung Bramantyo yang sukses menyutradarai film “Get Married”. Di film ini katanya sih rada berbeda dengan versi novelnya, ini dikatakan oleh sang sutradara sendiri yang sedikit merubah karakter Fahri. Meskipun rada berbeda tapi gw berharap nilai dakwah yang terkandung dalam cerita itu masih menjadi unsur utama. Dan semoga yang sudah pernah baca novelnya ga kecewa dengan filmya, kaya waktu film “Davinci Code”.

Berikut Hanung cerita tentang film “Ayat-ayat Cinta” :

ni Film ketujuh setelah ‘Get Married’ dan ‘ Ledhek’. Dua-duanya akan rilis lebaran ini. Ayat-ayat Cinta di proyeksikan untuk Idul Adha, Natal dan Tahun Baru. Bisa kebayang bukan, siapa yang akan menonton film ini.

Membaca Novel Ayat-Ayat Cinta, membuat saya mengantuk hingga setengah buku. Kantuk itu hilang pada saat bab mulai mengarah ke konflik. Yaitu ketika Fahri difitnah, masuk penjara dengan vonis mati, lalu seorang gadis kristen koptik bernama Maria datang menyelamatkan dengan ‘syarat’ kalau dia harus dinikahi dulu. Padahal Fahri saat itu sudah beristeri seorang gadis Turki-Jerman, Kaya dan cantik bernama Aisha. Kenapa mendadak saya tidak mengantuk? Buat saya disitulah letak religiusnya. Buat saya, religius bukan semata-mata mulut berucap doa dan puja-puji kepada Tuhan; religius juga bukan aktifitas menyeru tentang kebaikan di atas mimbar, di TV, Radio atau majalah sambil berdendang asik dengan ayat-ayat Quran dan Hadist. Bagi saya, religius adalah ketika manusia berada dalam kesadaran penuh atas ketidaksempurnaan. Ketidaksempurnaan itu membuat manusia merasa dirinya tolol, merunduk, bersujud dan … bertawaqal. Saya merasa pada saat itu Fahri menjadi tokoh yang sangat saya cintai. Sebelumnya, Fahri adalah malaikat. Fahri adalah lelaki sempurna, yang menurut saya, tidak ada di dunia ini. Sekalipun Habiburrahman bilang sosok Fahri banyak kita temui di Cairo, saya tetap tidak percaya. Saya memang melihat banyak Fahri disana. Seorang dengan pengetahuan agama Islam tinggi. Seorang rendah hati, pejuang hidup, sederhana dan pintar. Sekalipun saya meragukan kemampuan menguasai 4 bahasa (Inggris, Jerman, Arab dan Indonesia) sekaligus. Keraguan saya juga bertambah ketika dirinya dicintai oleh 4 orang gadis cantik dengan karakteristik berbeda-beda: Maria, seorang gadis cantik, pintar, kritis, sekalipun seorang kristen tetapi sangat mengagumi Al quran. Nurul, seorang gadis Indonesia, anak kyai besar di Jombang, seorang ketua Widah (sebuah perkumpulan anak-anak Al Azhar di Cairo), cantik, sederhana dan tentunya pintar. Lalu Noura, seorang gadis mesir yang dianiyaya ayahnya, dipaksa dijual menjadi pelacur. Juga seorang gadis cantik dan pintar. Terakhir, Aisha, seorang gadis keturunan Jerman-Turki-Palsetina. Sebuah paduan sempurna yang saya tidak perlu menjelaskan seperti apa bentuknya. Pastinya Cuantiik nemen rek, begitu kata orang jawa timur. Tidak hanya itu, dia juga kaya raya, setia, pintar dan solehah. Bahkan Aisha juga seorang perempuan yang merelakan suaminya untuk poligami. Duhai, lelaki mana yang tidak jatuh hati sama perempuan macam Aisha? Dan Fahri, tokoh ciptaan kang Abik yang mendapatkan hidayah itu. Bagi kang Abik, Aisha adalah bidadari yang pantas buat Fahri yang ‘sempurna’. Sungguh, saya tidak tahan melihat sosok Fahri yang tanpa cacat itu.

Seorang kreator adalah Tuhan bagi ciptaannya. Tidak hanya di film, dalam ranah sastra, apalagi sastra modern, seorang penulis memiliki hak penuh (sebagaimana Tuhan) untuk menciptakan karakter, set dan cerita. Tapi masalahnya kreator bukan sepenuhnya Tuhan. Kreator punya tanggungjawab meyakinkan penonton atau pembaca perihal karakternya. Ada logika ‘Ruang-Lingkup’ yang dihadirkan untuk mewujudkan kesinambungan dunia realitas karakter dengan dunia realitas penonton ataupun pembaca. Dalam hal ini, Kang Abik menciptakan tokoh Fahri yang jauh dari logika ‘Ruang-Lingkup’ tersebut, setidaknya cuma bab-bab awal sampai tengah. Selebihnya, Fahri menjadi manusia biasa. Hal itu yang membuat saya tertarik.

Oleh sebab itu pertama kali yang saya dan Salman Aristo lakukan sebelum membuat film Ayat-Ayat Cinta, adalah membongkar tokoh Fahri. Itikad ini saya lakukan bukan saya tidak respect dengan tokoh Fahri ciptaan kang Abik. Melainkan justru saya ingin Fahri menjadi representasi lelaki muslim. Representasi penonton.

Di dalam Novel digambarkan, Fahri adalah seorang lelaki yang tidak hanya soleh. Tapi juga seorang pemimpin Flat, panutan, kakak bagi yunior-yuniornya, seorang yang optimistik dan percaya diri, ganteng dan pintar (menguasai 4 bahasa). Apabila tokoh seperti ini dijabarkan lewat tulisan, akan dengan mudah menarik simpatik pembaca. Tapi jika di visualkan? Mari kita lihat Ongky Alexander di Catatan si Boy, atau Sakhru khan di film-film India. Apakah saya akan membuat film yang meletakkan karakter dalam dunia mimpi seperti sinetron-sinetron Indonesia? Tentu saja Tidak.

Fahri di Film Ayat-Ayat Cinta adalah sosok yang lugu, ragu dan tidak terlalu percaya diri. Lugu mencerminkan sifat sederhana dan apa adanya. Tidak neko-neko. Ragu lebih kepada sikap yang selalu hati-hati. Karena itu Fahri selalu dekat dengan Quran dan Hadist. Setiap menghadapi persoalan, Fahri bukan seperti superman yang mendadak menjadi jagoan. Justru sebaliknya, Fahri sangat hati-hati dan tidak show off. Hal ini tampak nanti pada saat adegan di Metro. Di Novel, saya mendapatkan kesan Fahri seorang jagoan, seorang Nabi yang sedang memberikan wejangan umatnya. Saya tidak bisa membayangkan jika itu di filmkan. Pasti jadinya akan seperti sinetron religius yang berisi ceramah-ceramah secara verbal. Karena Film adalah bahasa Visual, maka saya menghindari verbalitas. Di Film, Fahri menjadi lelaki sederhana yang terlibat pertengkaran hanya karena membela seorang perempuan. Quran dan Hadist menjelaskan itu yang memberikan alasan Fahri bertindak. Tentu saja tidak menjadi pendekar Silat. Melainkan sebagaimana dirinya yang sekolah di Azhar, Fahri mencoba menjelaskan perihal adab seorang Muslim menghadapi Tamu (ahlul zimah) yang senantiasa dilindungi kehormatannya. Tapi karena sikap Fahri yang lugu menghadapi lelaki Arab besar yang emosional, Fahri justru mendapatkan pukulan karena dianggap SOK TAHU dan SOK PINTAR. Bibir Fahri sedikit berdarah akibat pukulan itu. Pada saat itulah Fahri justru mendapatkan simpatik dari Aisha-Alicia dan penumpang Metro. Simpatik itu bukan karena Fahri bisa meredamkan emosi orang Arab sebagaimana di Novel. melainkan karena keberanian fahri menghadapi persoalan sekalipun kalah. Adegan itu juga meletakkan sosok Fahri sebagai manusia yang tidak sempurna, bisa berdarah dan lemah. Buat saya, ini lebih realistis.

Oleh sebab itu pemilihan Fedy Nuril menjadi Fahri adalah hal yang menurut saya tepat. Dalam diri Fedy ada keraguan dan kepolosan. Fedy bahkan tidak mengerti bagaimana meletakkan kakinya pada saat tahiyat akhir. Tapi justru dengan begitu, Fedy terlihat berusaha. Fedy yang tidak sempurna mencoba belajar menjadi sempurna. Kebanyakan yang casting menjadi Fahri, salah menafsirkan Fahri sebagai sosok religius. Mereka menampilkan diri mereka sangat suci. bahkan ketika melantunkan satu ayat, terlalu over dramatic sebagaimana ustadz-ustadz yang ada di TV dan Radio. Padahal tanpa mereka berbuat begitupun, sesungguhnya ayat Quran sangat Indah dan menyentuh hati.

Di Flatnya, dalam Novel ditulis kalau Fahri seorang pemimpin sekligus abang bagi yunior-yuniornya. Terus terang saya sangat risih dengan tingakatan Senior-Junior. Hal ini menampakkan sisi feodalisme yang justru bukan ciri Islam. Padahal saya kerap menemui itu di pesantren-pesantren. Di Film, saya menempatkan Fahri tetap seorang pemimpin Flat yang bertanggungjawab atas kebersihan dan kelangsungan aturan di Flat. Tapi bukan seorang Senior yang men jadi panutan seperti seorang kyai menjadi panutran Santri. Sosok Saiful yang di gambarkan kang Abik sebagai Yunior, justru saya tempatkan menjadi sparing partner Fahri. Tingkat pendidikan Saiful sama dengan Fahri. Keduanya sama-sama belajar agama. Bedanya, Fahri terlihat sebagai karakter yang konservatif, Saiful justru lebih moderat. seperti Gus Dur dan Gus Solah (solahudin Wahid). Gus Dur yang kadang nyeleneh dan berani adalah Saiful, Gus Solah yang hati-hati dan cenderung lurus adalah Fahri. Dengan demikian, Fahri tidak menjadi sosok paling benar di Flatnya. Saiful menjadi teman tidak hanya dalam diskusi Islam, tetapi teman curhat ketika Fahri mendapatkan masalah. Pada saat Syeh Ustman menawari talaqi ke Fahri. Saiful yang diajak bicara. Begitu juga saat Fahri di fitnah dan masuk penjara. Saiful menjadi sahabat setia.

Perobahan karakter tersebut didasari atas berbagai pengamatan kami terhadap penonton Indonesia. Sudah jarang kita temukan film-film sekarang yang menempatkan sosok seperti si Boy dalam Catatan Si Boy. Film paling laris Indonesia Ada Apa Dengan Cinta yang melahirkan idola Nikolas Saputra, juga bukan seorang yang sempurna. Lelaki tanpa teman, sinis, terkesan kasar sama perempuan, hanya punya seorang ayah yang hidup dalam idealismenya, tetapi memiliki kelembutan dan cinta yang tulus. Kesempurnaan di era paska reformasi justru menjadi pertanyaan. Bahkan di negara berkembang sekalipun.

Saya mempunyai harapan film ini tidak hanya sekedar film alternative di tengah bombardir Horor dan roman cinta remaja. Film ini saya harapkan menjadi citra muslim di Indonesia bahkan Internasional. Bahwa Islam adalah agama penuh cinta kasih. Penuh perenungan atas ketidaksempurnaan manusia-manusia muslim didalamnya. Bukan justru sebaliknya, radikal, terlalu meyakini atas kebenaran, dan tidak toleran.

Wala tusho’ir khaddakallinas, wa la tansyi fil ardhi maroha, Innalloha la yuhibbu kulla mukhtalin fakhur’ (Lukman 18)

… Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia, dan janganlah berjalan di bumi dengan Angkuh. Sungguh Alloh tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri …

Bagi yang pengen liat trailernya, bisa di download di sini