Minggu ini giliran siswa SLTP melaksanakan Ujian Nasional (UN) setelah minggu kemaren SLTA melaksanakannya. Seperti pelaksanaan UN tingkat SLTA, banyak terjadi kasus kebocoran kunci jawaban. Dan seperti biasa ada salah satu atau beberapa guru bahkan Kepsek yang diperiksa oleh Kepolisian terkait dengan kasus tersebut. Sebenarnya kasus ini sudah banyak terjadi pada tahun lalu. Tapi entah kenapa masih banyak teradi pula pada tahun ini.

Kalau kita cermati lebih mendalam, kasus ini merupakan kasus yang unik menurut saya, tidak boleh langsung menghukum bahwa kasus ini adalah sebuah kesalahan besar dalam dunia pendidikan. Harus dilihat kasus perkasus. Motif pembocoran soal bisa dikarenakan oleh modus tertentu untuk meraih keuntungan atau juga memang “niat baik” sang guru pada murid-muridnya agar bisa lulus. Hal iniilah yang tidak boleh disamaratakan.

Yang mungkin menjadi permasalahan sekarang adalah, kelulusan hanya ditentukan oleh hasil dari UN tersebut, apapun kondisinya dan berlaku nasional. Mau di kota atau pelosok desa, sama saja alias tidak dibedakan, meskipun memiliki kualitas guru/pendidik, fasilitas sekolah, kemampuan orang tua yang berbeda. Makanya UN sekarang bagaikan teror yang sangat menakutkan bagi sebagain besar siswa sekolah. Usaha mereka bertahun-tahun hanya ditentukan oleh UN yang hanya beberapa hari saja. Hal ini merupakan PR bagi pemerintah dalam mewujudkan keadilan dalam bidang pendidikan. Depdiknas sudah seharusnya melakukan evaluasi tentang program yang mereka klaim program untuk menaikkan kualitas pendidikan yang maen pukul rata ini.

Kalau kita flashback sistem yang dulu, kelulusan yang menentukan adalah pihak sekolah, karena sebenarnya yang mengetahui kemampuan siswa adalah pihak sekolahnya sendiri, meskipun hal ini subyektif, tapi memang pihak sekolahlah bisa mengukur apa yang telah mereka lakukan dari segala dukungannya (guru dan fasilitas pendukung lainnya). Sehingga sangat tidak adil apabila kualitas pendidikan dipukulrata. Berarti bagi yang sekolah di Jakarta misalnya, dengan fasilitas yang sangat memadai dan jika siswanya mampu menikuti les dimana-mana, beruntunglah mereka. Sebaliknya bagi mereka yang tinggal di pelosok desa dengan segala keterbatasannya, jangankan memikirkan untuk les, buat makan aja susah ibaratnya begitu.

Makanya wajar apabila ada sebagian guru yang mau membocorkan kunci jawaban (meskipun sebenarnya salah juga). Mereka tidak tega melihat murid-muridnya banyak yang tidak lulus. Bahkan para guru menyatakan bahwa soal UN bisa dibilang sangat sulit. Ini banyak terjadi di daerah-daerah. Tentunya kita berharap pemerintah bijak dalam menengani kasus seperti ini.