Mencari Matahari

“Aku tak pernah bisa menemukan Matahari, walau aku tak pernah menyerah untuk menyarinya. Tapi kini, tanpa aku duga, akumenemukan pasangannya:Rembulan. Padanya, aku seperti melihat setitik cahaya yang aku cari. Apakah rembulan yang aku temukan dapat melepas dahaga yang selama ini aku tanggung ?”

Sebagian cuplikan dari novel “Mencari Matahari” karya penulis Gola Gong. Gola Gong bertutur tentang kisah seorang anak manusia yang mencari sepenggal jati dirinya. Pebcarian siapa ibu kandungnya, membawa dia mengenal akan hakekat sebuah makna kebahagiaan yang sesungguhnya. Kritik sosial terhadap keadaan masyarakat sangat kental mewarnai cerita ini. Semua hal diramu dan dikemas secara memikat dengan bahasa yang sederhana. Membaca novel ini sampai tamat akan membuat kita terhanyut ….

Itulah novel yang aku beli di kota martil nan sepi. Sebenernya sebelum berangkat ke kota ini, aku udah nyiapin novel “24 Wajah Billy” yang belum sempet kuselesaikan baca. “Lumayan buat ngisi waktu luang” pikirku waktu itu. Namun setelah baca kurang lebih seper4 halaman kok rasanya kurang nggigit ya (kek makanan aja…). Tema yang diangkat cukup menarik, tapi alur cerita dari novel itu terlalu datar. Kurang ada kejutan-kejutan, konflik-konflik yang terjadi masih relatif datar. Sehingga kurang bisa membawa emosi yang membaca (maklum pecinta novel/buku yang bisa memancing emosi), masih mendingan kisahnya Sybil (meskipun belum selesai juga bacanya, keburu dipinjem temen dan sampe sekarang blom balik, tolong bagi yang merasa minjem segera mengembalikannya). Akhirnya capek juga baca tuh novel. Bingung juga klo lagi ada waktu luang (padahal waktunya luang terus ampe bosen) mo ngapain yak. Trus iseng-iseng nyoba nyari buku di toko buku “Kharisma” yang ada di Ramayana (mungkin satu-satunya toko buku di kota ini), pengennya skalian nyari buku psikologi yang mengungkap sisi-sisi kepribadian pria dan wanita (buku terjemahan), tapi kok lupa ya ama judulnya ya. Setelah kurang lebih setengah jam ngubek-ngubek Kharisma, akhirnya tertarik ama novel ini “Mencari Matahari”.

Ketika baca awal-awal cerita kesannya kek cerita sinetron yang sering tanyang di TV. Tapi setelah membaca keseluruhan ceritanya cukup menyentuh sekali, pas di akhir cerita aku sampe mbrebes. Gaya bahasa yang dipake cukup sederhana nan simple. Namun banyak kalimat-kalimat yang cukup menarik dan menyentuh. Salah satunya ketika “anak malam” berkata “Sesama rakyat kita harus duduk sama rendah tak berkursi, berdiri sama tinggi tak berdasi” kepada polisi. Dan satu lagi ungkapan sang “anak malam” yang sangat menyentuh, perasaan seorang anak kepada ibunya (walaupun sebenernya dia belum tau) :

“Tante Nurlela, yang selama ini jadi bayangan hidupku: Si Bidadari Baik Hati, kini betul-betul hadir di hadapanku dengan wujudnya yang nyata. Aku pada awalnya tak peduli, tapi ketika kulihat bola matanya, aku melihat sebuah kedamaian di sana. Kedamaian yang hanya dipunyai seorang ibu”

Sungguh membuat terharu. Bagi yang ingin membaca novel yang ringan namun tetep ada nilai pencerahannya, buku ini layak untuk dibaca.